TIMES MALUKU, TERNATE – Danau Tolire bukan sekadar permata alam Ternate, melainkan juga ruang kelas hidup yang penuh inspirasi bagi para masahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) Ternate.
Hal ini seperti yang dilakukan oleh puluhan mahasiswa semester I (satu) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unkhair yang mengubah kawasan danau tersebut menjadi laboratorium alam yang interaktif.
Dengan semangat penuh rasa ingin tahu, mahasiswa kelas 1A PGSD menyusuri kawasan Pulo Tareba, Kelurahan Takome, dalam kegiatan kuliah lapangan mata kuliah Konsep Dasar Biologi.
Mengusung tema “Eco-Teaching Experience: Belajar dari Kicauan Burung di Danau Tolire,” mereka tak hanya duduk mendengarkan ceramah, tetapi aktif mengamati, mendokumentasikan, dan mendiskusikan kehidupan burung di habitat aslinya.
Sejak matahari terbit, suasana Danau Tolire diwarnai oleh semangat para calon guru. Dengan binokular, buku catatan, dan kamera, mereka menyimak setiap gerak dan kicauan burung.
Diskusi pun hidup di tengah gemericik air dan rindangnya pepohonan jauh dari kesan kelas konvensional. “Inilah pembelajaran yang sesungguhnya,” ujar Wawan Suprianto Nadra, S.Pd., M.Pd., dosen pengampu mata kuliah, kepada media ini, Selasa (23/12/2023).
“Di sini, mahasiswa tidak hanya menghafal teori, tetapi mengalami langsung proses ilmiah, mengamati, mencatat data, dan bekerja sama tim. Mereka juga belajar menghargai bahwa setiap makhluk hidup punya peran dalam ekosistem dan tujuannya bagaiaman peduli dan menjaga ekosistem yang ada,” tambah Wawan
Danau Tolire dipilih karena kekayaan ekologinya yang masih terjaga. Kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis burung, baik yang menetap maupun yang singgah dalam perjalanan migrasi.
Bagi mahasiswa PGSD, pengalaman langsung ini menjadi bekal berharga untuk memahami keanekaragaman hayati secara nyata, bukan sekadar tulisan di buku teks.
Lebih dari sekadar memenuhi tugas akademik, kegiatan ini dirancang untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Sebagai calon pendidik, mahasiswa diajak untuk merasakan dan memahami pentingnya menjaga kelestarian alam, sebuah nilai yang nantinya akan mereka tularkan kepada generasi muda di bangku sekolah dasar.
“Setiap kicauan burung yang kami dengar adalah pengingat bahwa kita bagian dari alam,” tutur salah seorang mahasiswa dengan antusias. “Pengalaman ini membuka mata kami bahwa pembelajaran bisa dibuat sangat menyenangkan dan kontekstual.”
Melalui inisiatif ini, Universitas Khairun tak hanya mengedepankan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning), tetapi juga berkomitmen melahirkan calon guru yang peduli lingkungan, peka terhadap ekosistem, dan inspiratif dalam mengajar.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu awal bagi lebih banyak praktik pembelajaran kreatif yang mengajak mahasiswa bersentuhan langsung dengan alam karena terkadang, guru terbaik adalah lingkungan di sekitar kita.(*)
| Pewarta | : Husen Hamid |
| Editor | : Faizal R Arief |